-->

Menanti Ahmad Prabowo

MENGUKUR KEKUATAN AMUK PRABOWO PASCA PILPRES 2019

Oleh: Saiful Huda Ems (SHE).

Perhitungan suara PILPRES baik itu dengan menggunakan teknik perhitungan exit poll maupun quick count oleh lembaga-lembaga survei yang kredibel semuanya telah selesai, dan semuanya menyatakan Jokowi-MA yang tampil sebagai pemenang dengan rata-rata suara 55 % sedangkan untuk Prabowo-Uno 45 %. Meski demikian, sesuai dengan prediksi awal kubu Prabowo tidak akan mau menerimanya, bahkan terus menerus memprovokasi masyarakat dengan ancaman people power.

People power yang sesungguhnya lazim terjadi di berbagai belahan dunia adalah gerakan rakyat ekstra konstitusional melawan pemerintah karena pemerintah dianggap sudah tidak lagi dapat dipercayai oleh rakyat (illegitimate). Namun people power untuk konteks Indonesia saat ini sangatlah tidak tepat. Mayoritas rakyat telah memberikan suara dukungannya untuk Jokowi, bagaimana mungkin rakyat bersedia diajak untuk melakukan gerakan people power melawan Pemerintahan Jokowi? Rakyat yang mana? Ya bisa jadi mereka adalah rakyat yang sakit hati karena Capres-Cawapresnnya kalah dalam PILPRES.

Pertanyaanpun kemudian muncul dari beberapa orang yang ditujukan pada penulis, kira-kira seperti apa potensi kerusuhan people power yang akan digerakkan oleh kubu Prabowo? Seberapa besar kekuatannya dan seperti apa kerusakan yang akan ditimbulkannya? Sejauh mana pengaruhnya terhadap keputusan yang akan dikeluarkan oleh KPU nantinya untuk soal siapa pemenang PILPRES 2019 ini? Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut baiklah penulis akan mencoba memberi gambaran seperti apa potensi amuk Prabowo pasca PILPRES 2019 ini:

Pertama: Publik sudah sangat paham sekali bahwa pemenang PILPRES 2019 ini sejatinya adalah Jokowi-MA. Publik disini bukan hanya kelompok pendukung Jokowi-MA melainkan juga publik yang mendukung Prabowo-Uno. Setelah melihat hasil exit poll dan quick count semua lembaga survei beberapa menit dan jam setelah perhitungan TPS-TPS di seluruh Indonesia, publik sangatlah percaya bahwa itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah lagi, bahwa pemenang PILPRES 2019 ini adalah Pasangan Capres No.01 Jokowi-MA. Mereka semua dapat mempercayai validitas hasil exit poll dan quick count lembaga-lembaga survei tersebut karena mereka sudah terbiasa mengikutinya dari PILPRES 2004, dan semuanya tidak ada yang meleset dari hitungan akhir real count yang dilakukan oleh KPU, jika itu benar-benar disampaikan oleh lembaga-lembaga survei yang kredibel seperti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denni J.A.

Karena itu tidak menjadi heran kemudian terjadi peristiwa-peristiwa memalukan yang dilakukan oleh orang-orang dari sebagian pendukung fanatik Prabowo. Beberapa orang telah membanting dan membacok Televisinya, ada juga yang stres langsung memanjat tiang listrik karena malu jagoannya kalah dan lain sebagainya. Prabowo dan para pendukung utamanya pun panik hingga harus melakukan konferensi pers tiga kali dan mendeklarasikan kemenangannya berulang-ulang padahal KPU sendiri belum resmi mengumumkan siapa sesungguhnya sang pemenang. Yang menarik kali ini, Sandiaga Uno terlihat sama sekali tidak sumringah atau tidak semangat, yang diprediksi oleh banyak orang karena malu. Malu, sudah kalah harus pura-pura menang dan sujud syukur segala. Itu sebabnya dari tiga kali konferensi pers deklarasi kemenangan, Sandiaga Uno hanya hadir sekali dengan wajahnya yang terlihat kecut dan malu.

Kedua, sebesar apa kira-kira potensi amuk Prabowo kali ini? Seberapa dahsyat kekuatannya bersama para pendukungnya, jika mereka benar-benar hendak membuat rusuh negara?

Penulis diam-diam sudah lama mencoba mengkalkulasi kekuatan Prabowo jika saja ia mencoba menggerakkan para loyalis atau pendukungnya dan hasilnya sbb:

Para loyalis atau pendukung fanatik Prabowo hanyalah beberapa desertir Kopasus yang sejak lama menjadi pengikut Prabowo. Berikutnya adalah para pengikut HTI, FPI dan sebagian dari PKS. Kenapa penulis katakan sebagian dari PKS kok tidak semua kader PKS? Karena sebagian kader PKS lainnya sudah merasa nyaman dengan perolehan suara PKS dalam PILEG 2019 ini yang menaikkan suara pemilihnya. Bagi mereka menolak hasil PEMILU 2019 berarti membuang sia-sia kesempatan mereka untuk memasuki parlemen. Olehnya pasca PILPRES sebagian kader PKS sebenarnya hanya setengah hati mendukung amuk Prabowo.

Ketiga, jika kita sudah mengerti kalkulasi para loyalis atau pendukung fanatik Prabowo kitapun akan menjadi tau sejauh mana potensi keberhasilan amuk atau people power Prabowo jika hal itu benar-benar akan mereka lakukan. Jokowi-MA bukanlah tokoh politik yang single fighter, beliau berdua juga memiliki massa pendukung fanatik yang tak kalah banyaknya dari pendukung fanatik Prabowo-Uno. Selain itu Jokowi-MA juga didukung NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar di dunia. Diluar dari itu TNI dan POLRI juga telah bertekad bulat mengamankan PILPRES 2019, membuat onar negara dengan mengacaukan PILPRES berarti berhadapan dengan TNI dan POLRI.

Melihat dan memperhatikan dengan seksama Peta Politik pasca PILPRES 2019, penulis sangat meyakini bahwa amuk Prabowo tidak akan dapat berpengaruh besar pada stabilitas keamanan nasional. People power yang sejatinya termasuk dalam ketegori ekstra konstitusional akan berubah menjadi inkonstitusional manakala ia telah menampik segala keputusan hukum yang dikeluarkan secara resmi dalam hal ini real count PILPRES 2019 yang akan dikeluarkan oleh KPU. Tindakan inkonstitusional amuk Prabowo inilah nantinya yang akan menjadikan TNI, POLRI bersama masyarakat akan menjadi lebih tegas untuk menggilasnya ! Sejarah politik Indonesia telah membuktikan, segala tindakan pemberontakan dengan kekerasan melawan konstitusi selalu berakhir tragis di negeri ini. Tidak percaya? Cobalah !.

Akhirul kalam, semoga saudara-saudara sebangsaku tetap bisa menahan diri dan selalu berjiwa besar menerima kekalahan. Kecurangan pasti sangat mungkin terjadi, namun fakta membuktikan selalu saja kecurangan itu dilakukan oleh siapapun yang tak setia pada kebenaran dan keadilan. Merekalah yang seharusnya wajib dihukum dan jangan dilihat dia pendukung siapa karena sejatinya kejahatan itu tersebar pula dimana-mana. Mao berkata,"Politik adalah perang tanpa darah", jika sudah kalah ya jangan marah dan mendeklarasikan kemanangan berulang-ulang pula. Malu dong diperhatikan generasi muda bangsa. Pesta Demokrasi telah usai, mari semua bergembira sambil menunggu keputusan resmi dari KPU siapa sesungguhnya Capres-Cawapres yang paling banyak diinginkan rakyatnya, dan itulah presiden dan wakil presiden kita semua. Mudah sekali bukan?....(SHE).

Jakarta, 19 April 2019.

Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan Penulis yang menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Menanti Ahmad Prabowo"

Post a Comment

SILAHKAN KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel