-->

Kisah Pertaubatan Ka’ab bin Malik

FAQUHA.com - Ka’ab bin Malik adalah paman dari Abdurrahman bin Abdullah, yaitu perawi hadis yang menceritakan kisah Ka’ab bin Malik yang ketinggalan dalam perang Tabuk, yang terdapat dalam kitab shahih bukhari, kitab maghazi (peperangan), bab ke 80, hadist ke 4418.

Sebelum pergi perang Tabuk, pada malam aqabah kaum muslimin telah saling berjanji untuk setia kepada islam dan berbuat apa saja demi islam termasuk perang berjihad di jalan-Nya. Untuk menghadapi perang Tabuk ini, saking semangatnya, Ka’ab bin Malik telah membeli dua tunggangan yang belum pernah dibelinya dalam perang-perang sebelumnya.

Sebelum peperangan ini dilakukan, Rasulullah memerintahkan kepada seluruh kaum muslimin yang hendak pergi perang untuk mempersiapkan semua hal yang dibutuhkan dalam perjalanan menuju Tabuk dan pastinya ketika perang. Adapun jumlah orang yang ikut dalam perang Tabuk ini sangatlah banyak, ada yang mengatakan 10.000 hingga 40.000 orang sehingga tidak dapat dirangkum dalam buku daftar orang yang ikut peperangan. Saking banyaknya orang yang ikut dalam perang tersebut, seandainya saja ada diantara mereka yang akan ikut tersebut mengecoh untuk tidak jadi ikut, hal itu tidak akan diketahui melainkan Allah yang memberi tahu.

Ketika Rasul dan para sahabat lainnya telah bersiap-siap untuk pergi perang Tabuk, Ka’ab bin Malik malah menunda-nunda persiapannya tersebut hingga keesokan harinya, telah tiba hari esok harinya, Ka’ab menunda lagi, itulah yang dilakukan Ka’ab kurang lebih salama tiga hari, sehingga Rasul dan kaum muslimin telah berangkat jauh dan meninggalkannya.

Keinginan Ka’ab untuk menyusul kaum muslimin dalam perjalanan sempat terbesit, tapi lagi-lagi Ka’ab beranggapan bahwa itu adalah sebuah takdir yang telah ditetapkan untuk dirinya sebagai orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Jadi, alasan Ka’ab untuk tidak ikut perang Tabuk tidak ada.

Ketika Rasul sedang duduk bersama para sahabat dalam perang Tabuk, beliau teringat pada Ka’ab yang tidak dilihatnya dalam peperangan itu. Rasul berkata “Mana Ka’ab bin Malik”? kemudian ada seorang laki-laki dari bani Salamah menyahuti pertanyaan Rasul dan menjawab “sesungguhnya Ka’ab lebih mementingkan dirinya daripada ikut dalam paperangan ini” kemudian jawaban tersebut disanggah oleh Muadz bin Jabal dengan perkataan “sangat buruk pandangamu kepada Ka’ab”.”Wahai Rasulullah, kami mengetahui bahwa Ka’ab tidaklah seperti itu” tambah Mu’azd bin Jabal.

Kemudian, ketika berita kepulangan kaum muslimin dari perang Tabuk ini sampai ketelinga Ka’ab, Ka’ab pun mulai merasa gelisah, dia bingung apa alasan yang akan diutarakannya kepada Rasul karna tidak ikut dalam perang ini. Sempat Ka’ab merancang-rancang kedustaan supaya dia tidak dimarahi oleh Rasul, diantara usaha yang dilakukan Ka’ab adalah meminta bantuan kepada orang bijak dan kepada keluarganya untuk mencarikannya alasan supaya dia terhindar dari kemarahan Rasul, tetapi rencana berbuat kedustaan tersebut di urungkannya, dan dia tetap akan berkata jujur apa adanya kepada Rasul.

Seperti biasanya, sepulang dari peperangan, Rasul dan kaum muslimin langsung pergi ke masjid dan melakukan shalat, dan berbincang-bincang dengan sahabat lainnya, di sanalah para sahabat yang tidak ikut perang Tabuk mendatangi Rasul dan menyajikan alasan mereka masing-masing kenapa mereka tidak ikut perang Tabuk. Adapun jumlah mereka yang mengutarakan alasannya pada waktu itu adalah kurang lebih 80 orang, Rasul pun menerima alasan mereka dan memamafkan mereka, dan alasan mereka yang sebenarnya beliau serahkan kepada Allah, biar Allah yang menghukum menurut kejadian yang sebenarnya.

Ketika giliran Ka’ab, dia menghadap kepada Rasul dan memberi salam, Rasul memandang kepadanya dengan senyuman orang marah. Rasul menanyakan kepada Ka’ab apa alasan dia untuk tidak ikut dalam perang Tabuk ini. Ka’ab menjawab “seandainya hari ini aku berdusta kepadamu wahai Rasulullah dan engkau ridha, maka Allah sendiri yang akan menjadikanmu murka kepadaku, tapi jika aku jujur kepadamu, niscaya engkau akan marah kepadaku. Ka’ab berkata “Ya Rasulullah aku tidak mempunyai alasan apapun untuk tidak ikut dalam perang Tabuk ini”.

Mendengar jawaban dari Ka’ab itu Rasul terdiam, kemudian menyuruh Ka’ab pergi dan menunggu keputusan dari Allah. Ketika Ka’ab pergi, orang-orang dari bani Salimah mengikuti Ka’ab dan berkata, “Wahai Ka’ab, jika kamu mengutarakan alasan seperti alasan orang-orang pada umumnya, niscaya kamu tidak akan mendapatkan kemarahan Rasul, dan dosamu tidak ikut perang tersebut akan diminta ampunkan oleh Rasul kepada Allah, mereka selalu mengulangi perkataan itu kepada Ka’ab, seakan-akan Ka’ab bertekad untuk menarik alasannya kembali kepada Rasul dan mengemukakan alasan dusta, tapi rencana itu dimusnahkannya.

Selain Ka’ab, masih ada dua orang lagi yang senasib dengannya yaitu: Murarah bin Arabi Al amiri dan Hilal bin Umayyah al Waqifi. Adapun hukuman yang diberikan Rasul kepada Ka’ab dan dua orang lain ini adalah, kaum muslimin tidak diperbolehkan untuk berbicara dengan mereka. Kaum muslimin pun menjauhi dan berubah sikap kepada mereka, seakan-akan negeri saat itu asing bagi mereka bertiga. Keadaan pahit seperti itu mereka jalani deritanya selama 50 hari.

Adapun dua orang yang senasib dengan Ka’ab, mereka seakan-akan tidak sanggup menerima hukuman tersebut, dan salalu menetap dalam rumah sambil menangisi nasib mereka. Berbeda dengan Ka’ab, dia tetap menjalankan aktifitasnya seperti biasa, diantaranya pergi shalat jama’ah ke masjid, ikut majelis, jalan-jalan di pasar dan lain sebagainya, walaupun tidak ada orang yang mau bicara dengannya.

Suatu hari, Ka’ab pergi ke kebun milik Abu Qatadah yang merupakan anak dari pamannya sendiri. Ka’ab pun mengucapkan salam, tapi Abu Qatadah tidak mau menjawabnya. Ka’ab berkata “Wahai Abu Qatadah, aku bersumpah atas nama Allah, apakah engkau mengetahui bahwa aku ini mencintai Allah dan Rasul-Nya?”, tapi Abu Qatadah tetap diam, Ka’ab mengulang perkataanya beberapa kali hingga Abu Qatadah menjawab “Allah dan Rasulnya yang lebih mengetahui”. Mendengarkan jawaban dari sepupunya tersebut Ka’ab menangis menumpahkan air mata, kemudian pergi meninggalkan Abu Qatadah.

Ketika Ka’ab berjalan di pasar, ada orang yang memberikan surat kepadanya yang berasal dari raja Ghassan yang bernama Jabalah bin Al Aiham, yang merupakan orang kafir. Surat itu bertujuan untuk mengajak Ka’ab bergabung dengannya. Karena Ka’ab telah diperlakukan dengan tidak baik oleh Rasul dan kaum muslimin. Dia ingin mengadu domba antara Ka’ab dan kaum muslimin. Tapi tawaran tersebut ditolak oleh Ka’ab. Dia menganggap ajakan tersebut merupakan cobaan juga untuknya.


Setelah 40 hari berlalu, Ka’ab dan dua orang yang senasib dengannya kembali diuji dengan perintah untuk menjauhi istri mereka masing-masing. Menjauhi yang dimaksud bukanlah untuk menceraikan. Istri Ka’ab menyetujui hal itu, karna merupakan perintah dari Rasul. Tapi tidak dengan istrinya Hilal bin Umayyah, dia menolak perintah Rasul tersebut kemudian mendatangi Rasul dan mengatakan bahwa suaminya itu telah tua, dia memerlukan bantuannya, dan dia tidak mempunyai pembantu untuk menolongnya kecuali istrinya sendiri. Awalnya Rasul menolak dan berkata “tidak, tetaplah kamu menjauhinya” tapi akhirnya karena terus didesak, Rasulpun mengizinkannya untuk tetap bersama suaminya itu.

Melihat izin yang diberikan Rasul kepada istri Hilal, keluarga Ka’ab pun mendesak Ka’ab agar memberikan alasan kepada Rasul untuk tetap bersama istrinya sebagaimana alasan yang telah diutarakan oleh istri Hilal, tapi Ka’ab menolak desakan tersebut dengan alasan dia masih muda dan masih sanggup berbuat banyak dengan sendirinya, serta tidak memerlukan bantuan orang lain.

Ketika malam ke 50 dari berlalunya hukuman bagi Ka’ab dan dua orang lainnya, pada subuh hari dia shalat fajar di rumahnya, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan yang meneriakkan bahwa dia telah terbebas dari hukumannya, orang-orang pun berdatangan dan mengucapan selamat kepadanya, dan juga mengucapkan selamat kepada dua teman Ka’ab yang senasib dengannya itu. Kemudian Ka’ab berdiri dihadapan orang yang meneriakinya, kemudian Ka’ab melepaskan pakaian luarnya dan memakaikan kepada orang tersebut, padahal pakain Ka’ab tidak ada lagi selain pakaian yang dia berikan itu. Kemudian Ka’ab meminjam pakain kepada orang lain dan pergi menemui Rasulullah di mesjid. Sesampainya di mesjid orang-orang yang berada di sekeliling Rasul menyambut kedatangannya sambil mengucapkan selamat atas terbebasnya Ka’ab dari hukuman dan atas diterimannya taubat Ka’ab dan dua orang yang senasib dengannya itu.

Kemudian Ka’ab menghadap Rasul dan mengucapkan salam, Rasulpun menjawab salam Ka’ab sambil memandang kepadanya dengan memberikan senyuman indah bak rembulan. Ka’ab berkata “Ya Rasulullah, karena taubatku telah diterima, maka aku akan menafkahkan hartaku di jalan Allah”. Rasul menjawab “Tahan sebagian hartamu karena itu lebih baik bagimu”. Kemudian Rasul membai’at Ka’ab dan memohonkan ampun untuknya kepada Allah. Semenjak kejadian itu, Ka’ab tidak pernah lagi terbesit dalam hatinya untuk hendak berdusta sampai akhir hayatnya.



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Pertaubatan Ka’ab bin Malik"

Post a Comment

SILAHKAN KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel