-->

Bekal Manusia sebagai Khalifah; Tafsir Kata al-Asma

Faquha.site - Setelah menciptakan Adam dan menjelaskan tugas-tugasnya yakni sebagai Khalifah, Allah tidak melepaskannya begitu saja untuk menjalani kehidupan di muka bumi tanpa disertai bekal yang cukup. Artinya, Allah tidak memberikan beban amanat tersebut (sebagai khalifah) tanpa disertai dengan perbekalan yang memadai.
Untuk semua tugasnya itu Allah memberikan bekal yang cukup selama menjalani tugas kekhalifahan. Proses pembekalan itu terekam dalam surat al-Baqarah ayat 31:
 “Dan Dia mengajarkan kepada Adam “al-Asma” (nama-nama/benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
            Yang menjadi fokus kita di sini adalah kata wa’allama Ȃdama al-asmâa kullahâ.
Beberapa ulama menafsirkan kata “al-Asma” yaitu bahwa Allah telah memberi tahu Adam jika dalam hidupnya nanti akan dihadapkan pada berbagai cobaan yang amat berat. Dalam menghadapi cobaan-cobaan itu, bekal yang paling pertama diberikan kepada Adam adalah al-asmâa.
Apa yang dimaksud dengan al-asmâa? Menurut Muhammad ibn Ahmad al-Qurthuby dalam Tafsirnya Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân, al-asmâa adalah lafal istighfar, bacaan-bacaan mulia, tahlil, tahmid dan tasbih yaitu subhânallâh walhamdulillâh walâilâha illallâh wallâhu akbar.[1]
Ini semua adalah kalimat-kalimat suci, simpul-simpul suci yang dengannya Adam bisa menjadi struggle, fight, berjuang keras dan mampu istiqamah. Allah tidak ingin Adam menghadapi ombak kehidupan yang begitu keras dengan tangan kosong, karena hal itu akan membuatnya rapuh. Harus ada kekuatan-kekuatan yang akan menopang kedua kakinya ketika menapaki kehidupan yang penuh dengan guncangan dan badai.
Pembekalan kepada Adam berarti juga bekal bagi manusia secara keseluruhan. Untuk itulah, uraian di atas adalah sebuah pijakan bagi kita untuk memiliki pandangan positif terhadap kehidupan ini. Artinya, harus ada keyakinan dalam diri bahwa tidak semata-mata Allah melepaskan kita ke muka bumi tanpa bekal dan persiapan.
Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, dimana dengan kedua sifat itu mustahil bagi Allah untuk melepaskan Adam (manusia) di muka bumi tanpa bekal.
Allah tentunya Maha Mengetahui bahwa medan kehidupan dunia sungguh sangat berat. Beragam masalah akan dijumpai oleh manusia. Hari-hari manusia adalah saat-saat menjalani masalah, baik itu masalah individu, maupun masalah sosial. Untuk itulah, Allah memberikan bekal berupa kalimat-kalimat suci yang dapat dipergunakan untuk menaklukan berbagai persoalan kehidupan. Kalimat-kalimat suci ini adalah amunisi yang setiap saat dapat dipergunakan manusia dalam mengatasi permasalahan hidupnya.
Prosedur Kalimat-kalimat (al-Asma) menjadi senjata Ampuh
Lalu, bagaimanakah prosedur penggunaan kalimat-kalimat suci tersebut agar bisa dijadikan senjata ampuh menyelesaikan problematika hidup? Apakah cukup dengan membacanya kemudian semua masalah tersebut akan lenyap? Ataukah ada prosedur lain yang harus dipenuhi?
Dari penjelasan di atas diperoleh gambaran prosedur oprasional kalimat-kalimat suci, yaitu bahwa kalimat-kalimat suci yang akan menjadi bekal hidup kita haruslah dipahami maksud dan tujuannya. Allah mengajarkan Adam maksud dari kalimat-kalimat suci tersebut. Allah tidak hanya menyuruh Adam mengamalkan kalimat-kalimat suci tersebut, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah mengerti maksudnya terlebih dahulu.
Dimensi Spritual Al-Asma
Kalimat-kalimat suci itu hanyalah seonggok kata yang tidak jauh berbeda dengan kalimat-kalimat lainnya. Ia tersusun dari huruf-huruf yang kemudian menjadi kata, dan kata-kata tersebut disusun hingga menjadi sebuah kalimat. Yang membedakan dengan kalimat lainnya adalah dimensi spiritual yang terdapat di dalamnya.
Kalimat suci tidak sekedar sebuah kalimat yang dapat dibaca kapan pun, melainkan sebuah kalimat yang penuh  makna, nilai dan perjuangan, yang akan merubah manusia ke arah yang lebih baik manakala mengamalkannya. Kalimat suci tersebut ibarat lentera yang menerangi hati agar senantiasa terjaga akan keagungan Tuhan, sehingga manusia tidak lagi merasa psimistis dalam menjalani tugas kekhalifahan ini. Jadi, prosedur penggunaannya adalah mengetahui terlebih dahulu baru kemudian mengamalkannya.
Dalam kehidupan ini kita akan menjumpai berbagai cobaan, ujian dan rintangan. Itu semua menjadi garis hidup umat manusia. Ini adalah keputusan Allah yang sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. Untuk itulah tidak tepat jika kita berusaha menghindarinya. Justru yang harus kita lakukan adalah menyiapkan diri sekuat mungkin agar cobaan tersebut dapat ditaklukan sebagaimana Adam menaklukan cobaan-cobaan hidupnya.
Terkait dengan sikap diri terhadap ketentuan Allah, Imam Syafi’i, ulama besar dan imam madzhab, memberikan nasihat yang indah kepada kita. Beliau mengingatkan kita untuk mentabahkan jiwa di saat qadha telah ditetapkan, karena jika qadha telah turun tak ada yang sanggup mencegahnya. Tidak juga bumi, tidak juga langit. Ketabahan jiwa dalam menghadapi musibah akan mengantarkan kita menemukan makna terdalam serta nilai yang hendak disampaikan Tuhan dari musibah tersebut.
Apa yang disampaikan Imam Syafi’i di atas sungguh sebuah mutiara hidup yang sangat berharga. Berapa kali kita mengira bahwa apa yang datang adalah sebuah ketentuan dan akhir dari segalanya. Namun ternyata itu justru semangat baru, kekuatan, dan survive. Berapa kali kita merasa bahwa jalan yang kita lalui menjepit, tali yang kita pegang putus, dan bentangan-bentangan cakrawala yang ada di depan mata tiba-tiba menjadi gelap. Namun ternyata itu adalah kemenangan, pertolongan, kebaikan dan kabar baik. Kegelapan harus dihadapi dengan jiwa yang terang. Karena Allah SWT. sudah menjanjikan akan membantu setiap kita: QS. Al-An’am ayat 64:
“Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya." ( QS. Al-An’am ayat 64).

Para ahli mistik mengumpulkan potongan ayat ini untuk membesarkan jiwanya sehingga nanti bisa mengatasi kesulitan-kesulitan fisiknya. Sebagai contoh, binatang buas akan menjadi jinak hanya dengan membaca potongan ayat di atas. Ilmu kebal, ilmu menjinakan binatang buas, dan keajaiban-keajaiban beberapa orang adalah sebuah fakta yang tak bisa kita pungkiri. Kemampuan-kemampuan mistik seperti tadi bukan karena ayat tersebut, tetapi kekuatan jiwa dan ketangguhan prinsipnyalah yang membuat inner power-nya bangkit sehingga mampu melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan.
Dalam kasus orang menari di atas bara api ternyata juga dibenarkan oleh dunia paramedis. Dalam sebuah disertasi oleh sarjana Amerika dikatakan bahwa dalam tubuh kita terdapat zat-zat tertentu sebagai anti api, ribuan kali lebih utama dan lebih efektif daripada zat-zat tertentu yang dipakai untuk memadamkan api.
Jika enzim itu dikerahkan ke telapak kaki, kemudian seluruh zat-zat itu dikumpulkan semuanya dari betis ke bawah, maka orang itu bisa menari di atas bara api tanpa sedikitpun membuat badannya terbakar. Tapi jangan kita beranggapan bahwa Nabi Ibrahim seperti itu ketika dibakar di dalam api (selesai)




Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bekal Manusia sebagai Khalifah; Tafsir Kata al-Asma"

Post a Comment

SILAHKAN KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel