-->

Khansa seorang sahabati yang menolak di jodohkan oleh Rasulullah

Dalam kitab Al-Mabsuth, terdapat riwayat lain terkait kalimat yang diucapkan Khansa’ ketika menghadap Rasulullah SAW, “Sesungguhnya bapak saya memaksa saya menikah dengan keponakannya”. Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Laksanakan saja yang dimaui bapakmu.” Kemudian Khansa’ mengatakan kembali kepada Rasulullah SAW, “Saya tidak suka denga hal tersebut.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Kalau begitu, pergilah dan nikahlah kamu dengan orang yang kamu sukai.”
Dari kisah di atas menunjukkan bahwa sebuah pernikahan tidak boleh ada paksaan. Maka janga heran jika menemukan seorang perempuan yang menentang kesewenang-wenangan yang dia terima dari keluarganya atau walinya soal jodoh dan pernikahan.
Menyepelekan pendapat anak dan menikahkannya dengan orang yang tidak sehati karena tidak cinta, apalagi jika hanya karena materi dan harta, adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Perempuan dalam Islam diberi kebebasan untuk menyampaikan pendapat dan kebebasan dalam memilih pasangan hidup dan lain sebagainya.
Perempuan mempunyai hak dalam memilih pasangannya, dan mempunyai prioritas dalam menentukan pilihan. Rasulullah SAW yang dimintai pendapat tentang masalah tersebut juga tidak serta merta menyalahkan orang-tua Khansa’, juga tidak memaksa Khansa’ agar memenuhi permintaan orang tuanya.
Tetapi Rasulullah SAW memberikan sebuah pilihan kepada Khansa’ sebagai orang yang akan menjalani hidupnya sendiri dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Dalam kitab Nisa’ Haula Rasul, Khansa’ mengungkapkan kekecewaannya yang kurang lebih sebagai berikut, “Wahai ayahku, engkau telah menyiksaku dan membebankan kepadaku suatu beban yang berat. Engkau antarkan diriku kepada orang yang memandang rendah diriku”.
Wahai ayahku, kalau bukan karena kegundahan yang begitu menghimpitku, aku tidak memohon kepadamu untuk melepaskan darinya. Alangkah anehnya seorang perawan cantik yang gaunnya ditarik untuk disandingkan denga orang tua dari suatu kaum. Pria tua tersebut mengatakan kepadanya bahwa dia mempunyai tali kerabat, maka celakalah buat anak paman, baik dari ayah maupun ibu”.
Walaupun begitu, Rasulullah SAW tetap memberikan saran agar mengutamakan untuk menuruti bapaknya terlebih dahulu, sebagai wujud bakti anak kepada orang tuanya. Akan tetapi dalam urusan perjodohan, bakti juga ada batasnya, yaitu kebahagiaan sang anak itu sendiri. Bila bakti harus mengorbankan perasaan sang anak, Rasulullah SAW menyarankan untuk menikah dengan seseorang yang mampu membuat hati tentram.
Wallahu A’lam.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Khansa seorang sahabati yang menolak di jodohkan oleh Rasulullah "

Post a Comment

SILAHKAN KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel