-->

Ternyata Tahlilan 7 harian telah ada di Makah dan Madinah sebelum Kemunculan Wahhabi

http://www.faquha.com/2016/03/ternyata-tahlilan-7-harian-telah-ada-di-Makah-dan-Madinah-sebelum-kemunculan-wahhabi.html
Ternyata Tahlilan 7 harian telah ada di Makah dan Madinah sebelum Kemunculan Wahhabi
Masa kemunculan Wahhabi jika merujuk pada tahun lahir dan wafat pendirinya, Muhammad bin Abd Wahhab (1115 – 1206 H atau 1701 – 1793 M) yakni abad ke-12 Hijriyah.
Bandingkan dengan masa Jalaluddin al-Suyuti yang wafat pada 911 H atau pada ke-10 Hijriyah
Menurut al-Suyuthi amaliyah tahlilan pada 7 harian telah tersebar di Makah dan Madinah, berikut pernyataan Imam Suyuthi
إِنَّ سُنَّةَ اْلإطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّة إلَى اْلآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَإِنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ(الحاوي للفتاوي للسيوطي – ج 3 / ص 288)
Anjuran memberi makanan 7 hari, telah sampai kepada saya bahwa hal itu berlangsung hingga sekarang di Makah dan Madinah. Secara Dzahir hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat hingga sekarang, dan mereka meneruskannya secara turun temurun dari masa Awal” (al-Haawii 3/288)
Tahlilan sebagai Nihayah?
Selanjutnya pengikut wahabi memandang bahwa tahlilan sebagai bentuk dari Nihayah yang dilarang oleh agama, dengan berdasar pada atsar Jarir sebagai berikut:
عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قاَلَ كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ(رواه أحمد رقم 6866 وابن ماجه رقم 1612
“Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Kami menganggap berkumpul di rumah orang yang meninggal dan membuatkan makanan setelah pemakaman sebagai perbuatan meratapi mayat” (Diriwayatkan oleh Ahmad No 6766 dan Ibnu Majah No 1612)
Tanggapan Syaikh Khalid bin Abdillah terhadap riwayat Ibn Ahmad
وَقَدْ نَقَلَ أَبُوْ دَاوُدَ عَنْ أَحْمَدَ قَوْلَهُ لاَ أَرَى لِهَذَا الْحَدِيْثِ أَصْلاً فَهُوَ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ لاَ يَصْلُحُ لِلْاِحْتِجَاجِ. وَعَلَى الْقَوْلِ بِصِحَّتِهِ فَهُوَ مَحْمُوْلٌ عَلَى مَجْمُوْعِ الصُّوْرَةِ لاَ عَلَى مُجَرَّدِ اْلاِجْتِمَاعِ وَبِهَذَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالَّذِي يَظْهَرُ لِي أَنَّهُ إِنْ خَلاَ الْجُلُوْسُ مِنَ اْلإِضَافَاتِ الْبِدْعِيَّةِ فَإِنَّهُ لاَ بَأْسَ بِهِ لاَسِيَّمَا إِذَا كَانَ لاَ يَتَأَتَّى لِلنَّاسِ التَّعْزِيَّةُ إِلاَ بِذَلِكَ وَاللهُ أَعْلَمُ (أكثر من 100 فتوى للشيخ خالد بن عبد الله المصلح 1 / 35
“Abu Dawud sungguh telah mengutip dari Ahmad: Saya tidak menemukan dasar dalam riwayat ini. Maka ini adalah riwayat yang dlaif yang tidak layak dijadikan hujjah. Dan berdasarkan pada pendapat yang menilainya sahih, maka diarahkan pada seluruh bentuk, tidak pada bentuk berkumpulnya saja, inilah yang dikemukakan oleh sebagian ulama.
Menurut saya, bila berkumpul tersebut tidak ada unsur-unsur yang mengandung bid’ah, maka tidak apa-apa. Apalagi jika orang lain tidak mau takziyah kecuali dengan cara seperti itu” (Fatwa Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih I/35)
Pendapat Syaikh al-Tharifi dalam Syarah Buluguh Maram
وَلِهَذَا تَجِدُ اَنَّ اْلاِمَامَ اَحْمَدَ اَخْرَجَ اَحَادِيْثَ فِي مُسْنَدِهِ وَمَعَ هَذَا يَعُلُّهَا بَلْ مِنْهَا مَا يُنْكِرُهُ وَاْلاَمْثِلَةُ عَلَى هَذَا كَثِيْرَةٌ جِدًّا … وَمِنْهَا مَا أَخْرَجَهُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ حَدِيْثِ إِسْمَاعِيْلِ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قَالَ كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ. وَقَدْ نَقَلَ
 “Oleh karena itu anda akan menemukan Imam Ahmad meriwayatkan beberapa hadis dalam Musnadnya yang beliau sendiri menilainya cacat, bahkan sebagiannya menilainya munkar. Contohnya sangat banyak…. Diantaranya adalah ‘riwayat dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Kami menganggap berkumpul di rumah orang yang meninggal dan membuatkan makanan setelah pemakaman sebagai perbuatan meratapi mayat’. Abu Dawud sungguh telah mengutip penilaian dari Imam Ahmad mengenai riwayat tersebut: Riwayat ini tidak ada dasarnya!” (al-Tharifi dalam Syarah Bulugh al-Maram I/42)
Pendapat Sulaiman bin Nashir al-’Alwan:
وَلَكِنْ أَعَلَّ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ هَذَا اْلأَثَرَ (شرح كتاب الجنائز من البلوغ للشيخ سليمان بن ناصر العلوان 1/ 105
“Akan tetapi Imam Ahmad menilai cacat pada atsar ini” (Syarah Bulugh al-Maram I/105)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ternyata Tahlilan 7 harian telah ada di Makah dan Madinah sebelum Kemunculan Wahhabi"

Post a Comment

SILAHKAN KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel