-->

Ta'aruf dalam Tafsir Morfologi Ilmu Sharaf


Jakarta, Faquha.com - Ta’ruf ditemukan dalam al-Quran pada surah al-Hujrat; 13, dalam bentuk masdar yaitu lit’ârafû. sebagai pisau analisisnya, di sini pembahasannya dengan nuansa Sharaf yakni dengan metode Nashrif, sebuah tradisi cara belajar di Pesantren

Nashrif bisa jadi cara ampuh atau jurus jitu  yang menjadi spesialisasi bagi Pesantren tertentu. Karena memang setiap pesantren sering mempunyai versi yang berbeda dalam kontennya

Walaupun begitu Nasrif bagian dari program belajar dalam rangka “maharat al-sharaf” untuk mengasah kemampuan menguasai ilmu sharaf; sebuah ilmu yang mempelajari struktur bahasa Arab. Nasrif laksanan suplemen tambahan untuk lebih cepat memahami ilmu Sharaf

Melalui Nashrif, kita akan mengetahui asal-muasal kata dalam bahasa Arab dan beberapa derivasinya, jika dicotohkan dalam bahasa Indonesia, seperti kata memakan, makanan, tempat makan, makanlah! Adalah modifikasi dari kata “makan”  begitu pun dalam bahasa Arab, dari kata ilmu, kita akan menemukan Mualim, ma’lum, taklim, alim, dan maklumat,

Jelaslah sangat penting sekali mempelajari ilmu Sharaf untuk memahami bahasa Arab, sehingga tidak satupun lembaga pesantren yang meluputkan kajian ilmu ini dalam kurikulum pelajarannya.

Mempelajari Nashrif berarti kita akan di tantang untuk menghafal berbagai wazn (timbangan kata), jika dihitung semua tasrifan di urut dari mulai fi’il madi, fiil mudâri, masdar, ism Fâil, ism Maf’ûl, fi’il amr, fi’il nahyi, ism zaman, ism makan dan ism alat, jadi semuanya ada 10 bentuk, seperti kata nasara-yansuru-nasran-nasirun-mansurun-unsur-lâ tansur-mansarun-mansarun-minsarun. 

Lalu kata perkata dari bentuk tersebut masih bisa dipecahkan dalam “wuqu” seperti dari fi’il mâdi  menjadi 14 pecahan, sesuai dengan tuntutan bahasa Arab menghendaki adanya mufrad, tasniyah, jamak, mudakar, muanas, mukhatab, gâib, dan mutakllim.

Selain bisa dikiaskan menjadi 14 pecahan, fiil madi bisa dimodifikasi kedalam 39 bentuk, hal ini sesuai dengan gramatika bahasa Arab, yang terdapat tsulasi-ruba’i, mujarrad-mazîd, asli-mulhak, mazîid bi harfin-biharfain-bitsalatsati ahrûf. 

Nashrif di Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning

Di pesantren Baitul hikmah, Haurkuning, seorang santri diperlukan waktu 2-3 Bulan untuk menghafal dan memahami Nashrif dan tektek bengek-nya. Dengan intensitas belajar yang rutin, dengan Jargon ”Tatalaran” seorang santri akan memanfaatkan waktu luang dengan “tatalaran” seorang santri yang tidak menyukai “tatalaran” ibarat Tukang Pos yang salah alamat, masuk ke Pesantren alat. seperti Baitul Hikmah Haurkuning.

Sebagai alumnus pesantren alat, seorang santri akan sangat peka terhadap kata dalam bahasa Arab, ketika mendengar satu kata bahasa Arab, dia akan langsung bisa menebak asal muasal bahkan makna yang dikandung dalam kata tersebut, sehingga dia tidak akan sulit membedakan perbadaan dan persamaan dari keduanya.

Penulis mengambil contoh kata Musyawarah dan kata Ta’aruf dalam al-Quran.
Secara disiplin Nashrif (Sharaf), kata Musyawarah diambil dari kata Syâwara, yusâwiru, musyâwarah, ber-wazn Faaala, yufâilu, mufâa’lah termasuk dalam katagori Tsulasi Mazîd biharfain. Yang menunjukan arti  musyarakah baina al-Istnaini (Komunikasi dalam dua orang)

Sementara kata Ta’aruf secara Nashrif diambil dari kata Taâ’arafa, Yata’ârafu, Ta’ârufan, ber-wazn Tafâa’ala, Yatafâa’alu, Tafâ’ulan, yang menunjukkan arti musyarakah baina al-Itsnaini fa aktsara (komunikasi dalam dua orang atau melebihi).

 Dalam kasus sehari-hari kita akan mengenal kata “Pacaran dan Ta’arufan” 

1.    Pacaran menikmati kelebihan pasangan, ta'aruf mengenal calon pasangan apa adanya.
2.    Pacaran memperindah topeng untuk pasangan, ta'aruf memperindah akhlaq di hadapan Allah.
3.    Pacaran menyalurkan syahwat. ta'aruf mengundang datangnya rahmat.
4.    Pacaran niatnya untuk menikmati, ta'arufnya niatnya untuk menikahi.
5.    Pacaran didukung oleh syaitan, ta'aruf dido'akan oleh malaikat.
6.    Pacaran biasanya diperlama. Ta'aruf justru dipersingkat.
7.    Siap memacari belum tentu siap menikahi. Siap ta'aruf udah pasti berniat menikahi.

Ketika dikembalikan ke asal-muasal dari kata Ta’aruf secara ilmu Sharaf, maka makna Ta’aruf mempunyai makna komunikasi melibatkan beberapa orang

Maka bagi siapapun yang ingin segera Ta’aruf maka anda harus menghadirkan keluarga anda bertemu dengan keluarga pacar anda, sehingga menjadi komunikasi yang melibatkan berbagai pihak, karena dengan itu sesuai dengan hakikat dari perkawinan, 

Bukan hanya mempertemukan dua insan/dua sejoli tapi mempertemukan, mengkomunikasikan dua keluarga, dan itulah cita-cita besar yang di usung oleh kata Ta’aruf.


Wallahu a’alam.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Ta'aruf dalam Tafsir Morfologi Ilmu Sharaf "

  1. subhanallah,, dikemas dgn cara santai :) good.. lanjutkan berkarya !!

    ReplyDelete
  2. terimakasih atas kunjungannya..

    ReplyDelete

SILAHKAN KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel