-->

Definisi Syiah menurut Istilah

Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (W. 424 H) berpendapat bahwa sebuah kelompok disebut Syiah “Karena mereka mendukung Imam Ali Ra, serta menganggapnya lebih utama daripada Sahabat Nabi lainnya

Sementara, Ibnu Hazm (W. 456 H) yang hidup sezaman dengan Abu Hasan al-Asy’ari berpendapat bahwa kriteria Syiah tidak hanya mendukung Imam Ali tapi juga keturunannya dengan menganggap mereka sebagai manusia terbaik dan lebih utama dari para Sahabat lainnya dalam memegang tampuk kepemimpinan pasca-meninggalnya Nabi Saw.

“Siapa yang setuju bahwa Imam Ali Ra merupakan manusia terbaik setelah Rasul serta menganggap beliau dan keturunannya paling berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan, maka ia termasuk Syiah, walaupun ia tidak sepakat dengan mereka dalam masalah lain. Tapi jika ia tidak sepaham dalam hal-hal yang kita sebutkan di atas, maka ia tidak bisa disebut Syi’ah”[2].

Sedangkan Ibnu Khaldun (1332-1406 M), mendefinisikan Syiah dengan definisi yang lebih umum: “Pengikut Imam Ali dan Ahli al-Bait”[3].  Definisi ini sering diketengahkan oleh ulama’ Syiah.

Adapun Syahrustani (W. 548 H), mendefinisikan Syiah sebagai berikut:

“Orang-orang yang mengikuti dan mendukung Imam Ali, lalu berkeyakinan bahwa Imam Ali adalah pemimpin yang ditentukan melalui naskah tertulis dan wasiat (baik jelas maupun samar) dari Nabi, lalu kepemimpinan tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada keturunannya; dimana kepemimpinan tersebut tidak keluar dari mereka kecuali karena kezaliman dari pihak lain, atau karena taqiyyah dari mereka. Bagi mereka masalah Imamah (pemerintahan) merupakan masalah prinsipil dan termasuk salah satu rukun agama, yang tidak boleh diabaikan oleh Rasul serta diserahkan kepada pilihan publik (umat).

Selain mensepakati konsep Imamah berdasarkan naskah tertulis dan wasiat, mereka juga meyakini kemaksuman para Nabi dan Imam (baik dari kesalahan besar maupun kecil), serta konsep at-tawalli wa at-tabarri (mengangkat Imam Ali dan keturunannya sebagai wali atau pemimpin serta berlepas diri dari para musuhnya, baik secara lisan maupun perbuatan)” [4].

Definisi Syahrustani yang dianggap oleh banyak kalangan paling komprehensip (lengkap-mencakup) ini memuat 7 kriteria Syiah sebagai berikut:

Mendukung Imam Ali;Meyakininya sebagai pemimpin pasca-meninggalnya Nabi tanpa jeda waktu yang ditentukan melalui mekanisme Naskah Tertulis dan Wasiat dari Nabi;Kepemimpinan ini diwariskan kepada keturunannya secara turun-temurun yang juga melalui jalur teks dan wasiat;Keyakinan ini merupakan masalah prinsipil dalam agama, karenanya tidak boleh diabaikan oleh Rasul, dengan diserahkan kepada Umat;Meyakini bahwa para Imam merupakan orang-orang yang maksum seperti Nabi Saw;Meyakini konsep at-tawallī wa attabarrī (loyal terhadap para Imam dan berlepas diri dari musuh-musuhnya).

Demikian beberapa definisi yang diketengahkan oleh para ulama’ Perbandingan Agama dan Firaq dari kalangan Ahlu Sunnah mulai dari Imam al-Asy’ari, Ibnu Hazm, Ibnu Khaldun dan Syahrustani.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Definisi Syiah menurut Istilah"

Post a Comment

SILAHKAN KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel