-->

Penjelasan Qasidah Burdah


http://www.faquha.com/2016/01/Penjelasan-qasidah-burdah.html
Bedah Qasidah Burdah

Faquha.com - Syarafuddin muhammad al-Busyari (wafat 695 H/129 M) dalam burdahnya berkata:

“Maka janganlah berharap terkekangnya nafsu dengan maksiat, sungguh makanan itu menguatkan nafsu orang yang rakus

Nafsu itu ibarat seorang bayi. Jika engkau biarkan, tumbuhlah besar, ia terus menyusu. Dan bila engkau sapih, ia pun berhenti

Maka hindarkanlah keinginannya dan waspadalah dari mempertuannya. Sungguh nafsu itu, bila engkau pertuankan, hina dan menghinakan”


Memang agak berat jika anak terbiasa menyusu ke ibunya, lalu dipaksa  diganti dengan susu lain. Begitu pula jika tidak dilatih menahan nafsu itu sangat lah sulit

Apalagi jika nafsu tersebut terus diberikan makanan berupa maksiat sehingga nafsu tersebut sukar ditaklukan.  Orang yang memperturut nafsunya bahkan mempertuhankan maka ia akan hina dan nafsunya akan menghinakannya

Islam memang mengajarkan untuk mengendalikan nafsu nafsu bukan membunuhnya, Islam mengajarkan kita untuk membina nafsu, bukan membinasakan nafsu
Secara fitrah laki-laki bernaluri untuk meniduri wanita, maka keinginan itu disahkan oleh agama dengan melalui pernikahan, secara naluri manusia ingin memiliki harta dan tahta, maka agama menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

ayat-ayat al-quran memperingatkan kita untuk mengikuti hawa nafsu. Allah SWT berfirman:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqan: 43).

Maka orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya sebagai tuhan. Dan selalu menaati apa yang diperintahkannya maka Allah SWT berfirman: “dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat-Ku, serta mengikuti nafsunya dan itu adalah melewati batas” (QS. Al-Kahfi: 28).
Ketika mengikuti nafsu hati akan lalai dan pelakunya adalah manusia yang melewati batas.

Al-Quran mengingatkan kita bahwa An-Nafs menghiasi hati untuk berbuat maksiat. Bahkan itu berupa pembunuhan kepada saudara terdekat. Seperti kisah dua anak Adam:
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab dibunuhnyalah, Maka jadilah dia seorang di antara orang-orang yang merugi.” (QS/ Al-Ma’idah: 30)

Bahkan, nafs mendorong pemiliknya untuk menyekutukan Allah SAT dan menghiasi manusia dengan ksyirikan ini. Tidaklah kaum Tsamud yang menyembelih unta betina dan mendustakan rsulnya Nabi Shalih AS, melainkan karena mereka mengikuti hawa nafsunya yang melapaui batas.

“Dan jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya), Maka allah mengilhamkan pada jiwa itu jalan kefasikan dan ketawaanya. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikannya. Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya. (kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,’’ (QS. Asy-Syams: 7-11).

Kita memang memiliki nafsu makan, tapi pertanyaannya makanan mana yang halal dan baik untuk kita. Rasulullah saw pernah menegur orang yang berpuasa sepanjang hari semalam. Lalu rasul berkata: makanlah karena tubuh mu punya hak

Jika nafsu sudah terpelihara maka nafsu itulah nafsu Mutmainnah yang dipanggil Allah untuk masuk ke dalam surganya “yaa ayyatuha nafsul mutmainnah, irjii ila rabbbika radiyatan mardiyah, wa dkhuli fi ibadi, wadkhuli jannati”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Penjelasan Qasidah Burdah"

Post a Comment

SILAHKAN KOMENTAR

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel