Minggu, 22 Juli 2012

Evolusi Itsbat Versi Muhammadiyah

Tulisan ini beredar luas di dunia maya. Ya,Kiai Mustain Syafii yang juga dikenal sebagai "Kiai Koran" lantaran mengasuh uraian tafsir di sebuah harian local terlihat jengah dengan ulah salah satu ormas besar di tanah air.

Bagaimana pendapat Kiai Mustain Syafii? Berikut ulasannya.

Kiai Ahmad dahlan dan Kiai Hasyim Asy'ari itu sekawan, sama-sama menuntut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing.

Kiai Ahmad Dahlan bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari kuto Ngayokyokarto (Jogjakarta). Sementara kiai Hasim memilih pendidikan pesantren karena karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia. Allahumma ighfir lahuma.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kyai Dahlan mendirikan Muhammadiyah (MU) dan kyai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama’ (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu.

Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain: pertama Sholat Tarawih,
Antara Kyai Dahlan dan Kyai Hasyim sama-sama melakukan sholat tarawih 20 rokaat. Kyai Dahlan disebut-sebut sebagai imam sholat di Masjid Syuhada Yogyakarta. Kedua, Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim do’a(Yasinan dan Tahlilan). Ketiga, Baca Qunut Subuh. Keempat, Sama-sama gemar bersholawat (Diba’an).
kelima, Dua kali khutbah dalam Sholat Ied. Keenam, Tiga kali takbir “Allahu Akbar”, dalam takbiran.
ketujuh, Itsbat Hilal, sama-sama pakai rukyat. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar mana yang salah.
Semua amaliah tersebut berjalan dan bertahan puluhan tahun. Semuanya tertulis dalam kitab “Fikih Muhammadiyah” yang terdiri dari 3 jilid, diterbitkan oleh Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka, Yogyakarta, sekitar tahun 1343 H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis tarjih, dari sini mulai ada perbedaan praktik ibadah yang “harus beda” dengan pendahulunya. Dan tentu berbeda dengan NU. Perkara dalil akan dicari belakangan.



Disinyalir, praktik beda tersebut lebih dipengaruhi politik daripada kesohihan hujjah dan fadhilah amaliyah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti Hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hokum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dlaif. Itu belum dinaikan pakai uji takhrij berstandar mtasyaddid versi Ibnu Ma'in. menurut mayoritas Muhadditsin, hadis dlaif tidak boleh dijadikan hujjah hokum, tapi boleh sebagai dasar amaliyah berfadlilah atau fadlailul Amal. Tahun 1995, Kiai Mustain masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pasca-serjana IAIN Sunan Kalijaga.



Tentang dalil yang dicari-cari secara ngawur akan berefek pada praktik ibadahnya. Contohnya ketika Majlis Tarjih memfatwakan Sholat tarawih 11 rokaat, mari kita lihat praktiknya.

Awalnya, dengan komposisi : 4, 4, 3 (empat rokaat satu salam, empat rokaat satu salam) ini untuk tarawih. Dan tiga rokaat untuk witir (model Imam Hanafi), sementara NU dua-dua semua dan satu witir (model Imam Syafi’i).

Tetapi pada 1987 model tarawih tersebut diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas saran KH. Shidiq Abbas dari Jombang. Beliau tampilkan hadits dari Shohih Imam Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena hadits Muslim lebih shaheh ketimbang hadits empa-tempat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahunitu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua mesjid dan musholla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktek shalat tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.
Contoh lain adalah soal rukyat hilal. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli ilmu falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa dulu Muhammadiyah menggunakan rukyat hilal dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung sampai era Orde Baru. Karena waktu itu Muhammadiyah menguasai Depag, maka tetap bertahan dengan derajat cukup tinggi, menolak hilal dua derajat. Sementara ahli falak NU menerima hilal dua derajat.

Oleh karena itu, tahun 1990an NU tiga kali berturut-turut berbeda Lebaran dengan Pemerintah-Muhammadiyah. Setelah Orde Baru tumbang dan Gus Dur menjadi presiden, mindset Muhammadiyah berubah dan radikal meninggalkan rukyat hilal derajat tinggi.

Lalu mereka membuat metode “wujudul hilal”, artinya pokoknya hilal terlihat di ufuk, sekalipun derajatnya nol koma, mereka sudah menetapkan tanggal satu. Disini jelas kualitas hujjah Muhammadiyah yang berubah-ubah yang tidak valid. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Qur'an berisikan seruan "Taat kepada Allah, Rasul dan Ulil Amr" menjadi alergi didengar.

Di sini Muhammadiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyat, kini membuang criteria itu secara total dan yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyat dengan minimum dua darjat. Tentu saja beda lagi dengan NU.
Menyikapi Lebaran dua versi, pengikut Muhammadiyah tentu tenang karena sudah terbiasa dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap atau komentar itu bisa menenangkan orang lain?

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu' atau teropong modern sama-sama punya. Justru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Uniknya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis, ahli, kritis justru tunduk dan patuh pada Majelis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada.





1 komentar:

  1. mungkin mau meniru (al-masih) (pengikut)

    BalasHapus